Minggu, 15 Mei 2016

Sejarah Desa Gentan



Apa artinya sebuah nama? Nama menurut salah satu filsafat dan pepatah Jawa kadang juga mengandung maksud dan tujuan. Dalam Bahasa Jawa “Asmo Kinaryo jopo”.
Dalam keseharian kita juga melihat seorang ibu memberi nama anaknya bernama “Bejo” dengan harapan anaknya menjadi orang yang selalu beruntung. Ada juga dalam Bahasa Sansekerta seekor burung diberi nama “paksi” yang artinya hanya untuk memperindah. Yang jelas nama dibuat mengandung maksud dan tujuan. Begitu juga nama dan asal usul Desa Gentan di Kecamatan Bulu.
Pada jaman dahulu jauh sebelum NKRI merdeka tepatnya di sebuha dukuh kecil di lereng utara Gunung Gedhe Gajah Mungkur (sekarang dukuh Baseng) tinggallah seorang tokoh sakti yang bernama Kyai Bas tinggal ebrnama istri dan di sebelah utara Baseng ada tanah pertanian subur seluas satu lupit (100 patok) milik Kyai Kerto yang berasal dari daerah Dk. Kerten dis ebelah utara Dk. Baseng (Dk. Kerten sekarang masuk wilayah Desa Tiyaran).
Pada suatu hari tanah bumi Kerten yang terkenal subur mengalami kekurangan air, karena di wilayah pedukuhan Baseng dibuat “Kekitren” (kebun sayuran) oleh Kyai Bas. Pada saat itu datanglah Kyai Kerto ke bumi Migit (sebuah tempat di dukuh Baseng) dan berteriaklah Kyai Kerto saatitu, “ barang siapa mampu mencabut pohon kelapa (dalam bahasa jawa glugu) di bumi Migit ini, maka dia akan mendapatkan hadiah bumi Kerten dengan luas satu lupit (100 patok) berserta isinya”.
Ucapan dan teriakan Kyai Kerton saat itu tenyata ditunjukan kepada Kyai Bas yang saat itu berada tidak jauh dari areal bumi Migit.
Ketika itu tidak ada satu penduduk pun yang mendekat dan menanggapi ucapan dan sayembaradari Kyai Kerto, hal ini adalah wujud kepatuhan warga terhadap Kyai Bas sebagai pemimpin atau tokoh saat itu.
Namun saat itu Kyai Kerto menunjukkan kedikdayan dan kesaktiannya dengan olah kanuragan untuk mencabut pohon kelapa (glugu). Ternyata pohon kelapa (glugu) di sekitar bumi Migit tidak atupun bisa dicabut dari akarnya, hanya pelepah yang bisa ditarik oleh Kyai Kerto (dalam Bahasa Jawa “ditiyungke”)
Melihat ulah Kyai Kerto saat itu Kyai Bas mendekat ke bumi Migit dan mencabut semua pohon kelapa di areal bumi Migit, semua pohon kelapa (glugu) dikumpulkan oleh Kyai Bas di sekitar mata air di sebelah selatan bumi Migit dan ditata sehingga terbentuklan kandangan berbentuk segi empat yang sekarang disebut oleh warga Baseng bernama “Sendang Kyai Bas” atau  Blumbang Kyai Bas”.
Melihan fenomena dan kejadian itu maka Kyai Kerto tidak bisa berbuat apa-apa dan tertegun, namun ada pepatah dan falsafat Jawa mengatakan “Sabda Pandito tan keno wola-wali”, apa yang menjadi ucapak Kyai Kerto pada sayembara di bumi Migit tidak boleh berubah-ubah (wola-wali), sehingga sebagai seorang Kyai (golongan pendhito atau brahmana dalam Bahasa Jawa) maka Kyai Kerto harus bawa laksana artinya apa yang menjadi ucapan harus dilaksanakan, dan akhirnya bumi kerten dan isinya diserahkan kepada Kyai Bas dan akhirnya menjadi Bumi Perdikan (bumi Kemengan), yang sampai saat ini menjadi simbol kemenangan dan kejayaan Pemerintah Desa Gentan yang digunakan menjadi tanah adat sebagai tanah bengkok (tanah kas desa) yang hasil lelanganya digunakan untuk menggaji kepala desa dan perangkatnya. Keberadaan Bumi Kerten sebagai tanah adat ini sebagai simbol kedaulatan desa, sebagai Pranata Adat dan Pranata Sosial dalam pemerintah di tingkat desa.
Keberadaan bumi kerten ini juga sebagai pilar penyangga wisata Kabupaten Sukoharjo dan wisata Nasional karena bumi Kerten menjadi obyek wisata milik Desa Gentan yang diapit oleh keberadaan Cagar Alam Gunung Sepikul.
Setelah Kyai Kerto menyerahkan bumi Kerten kepada Kyai Bas, maka Kyai Kerto menyatakan diri ingin menjadi murid Kyai Bas. Seketika itu di daerah Kerten sulit mata air atau tidak ada mata air di dukuh Kerten. Permintaan Kyai Kerto untuk menjadai murid Kyai Bas diterima oleh Kyai Bas dengan sebuah syarat : keturunan Kyai Kerten tidak boleh menikah dengan keturunan Kyai Bas, dan syaratnya disanggupi oleh Kyai Kerto. Namun ada permintaan dari Kyai Kerto bahwa warga Kerten dalam kebutuhan sehari-hari agar tercukupi air bersihnya akan meminta air secukupnya di daerah yang berada di wilayah Kyai Bas dan sekitarnya. Kyai Bas dengan ketulusan hatinya memberikan ijin untuk pengambilan air di daerahnya oleh warga Kyai Kerto saat itu jagat isinya dan Dewata atau Allah SWT memberi keajaiban pada daerah tempat Kyai Bas diberi banyak mata air yang melimpah (seperti Blumbung Kyai Bas, Pancuran Sendang Lel, Sendang Ayu, Sendang Lengkong Sari, Sendang Songo dan lain-lain)
Pada saat bumi Kerten memiliki Kyai Bas, tanahnya menjadi subur dan bertepatan dengan acara metik (panen raya), dikabarkan bahwa istri Kyai Bas melahirkan seorang bayi laki-laki pada hari Jum’at Kliwon. Bayi tersebut diberi nama Baseng yang pada akhirnya bayi Baseng meneruskan sejarah Kyai Bas dengan kearifan dan sikap bijaksana, karena cintanya kepada putranya mana nama Baseng diabadikan menjadi nama dukuh tempat tinggal Kyai Bas sebagai simbol kemenangan dan kemakmuran.
Dan hari Jum’at Kliwon digunakan untuk hari lahirnya dukuh Baseng. Dan mayoritas penduduk Dukuh Baseng menggunakan hari Jum’at Kliwon untuk acara rasulan/bersih dusun dan acara merik panen raya.
Dengan berkembanganya Basen menjadi perkampungan besar, maka Kyai Bas membuat ketetapan bahwa nanti wilayah di Baseng akan berkembang ke arah barat dan selatan di lereng Gunung Gedhe Gajah. Di wilayah barat sampai wilayah Sendang Longkong Sari, Sendang Songo dan Pohon Payaman. Di wilayah selatan dan barat daya di lereng Gunung Gedhe di umbul Pacinan, umbul Bendho diwilayah pohon Tanjung dan pohon Kepuh dan yang paling barat adalah di wilayah pohon Miri, pohon Kelor, dan ladang tanaman garut yang sekarang berkembang pesar menjadi perkampungan.
Penetapan Kyai Bas terhadap wilyaha tersebut juga diikuti dengan tata batin yang tulus bahwa nantinya wilayah-wilayah tersebut akan juga muncul orang-orang sakti, bijak dana rif (atau dalam bahasan Jawa disebut Gento yang berarti linuwih/pinunjul), sehingga wilayah yang disebut oleh Kyai Bas akan menjadi wilayah yang makmur, gemah ripah loh jinawi. Sehingga wilayah Gento atau orang-orang linuwih tersebut menjadi wilayah bernama GENTAN.
Jadi jelas dalam catatan sejarah desa ini bahwa Gentan dengan perkembangan jaman akan menjadi daerah yang akan muncul orang-orang pinunjul dan berguna, namun ketetapan Kyai Bas tersebut diikuti wasiat dan pepali bahwa tanah dan wilayah Desa gentan akan subur dan makmur apabila warganya mengikuti semua aturan/pranata adat yang dikenal dengan kearifan dan sosok Gento atau orang-orang linuwih (pemimpin) yang berpihak terhadap rakyat dengan kerarifan dan kebijakannya.
Sehingga sampai saat ini ada wilayah atau desa bernama Desa Gentan yang dimulai dari Dusun Baseng yang terkenal dengan beberpa tempat yaitu : Bumi Kerten, Gunung Sepikul, Bumi Migit, Sendang/blumbung Kyai Bas, Pancuran/sendang lele, dan Sendang Sari di dukuh Lengkong Sari, Sendang Songo yang sekarang tinggal 3 tempat yaitu Sendang Wali, Sendang Lanang dan Sendang Kaputran yang kesemuanya berada di Dusun Gentan. Dan paling ujung barat laut di tempat pohon Payaman yang besar dinamakan Dukuh Payaman.
Di dukuh Payaman ada makam R. Joko Humyang/R. Haryo Tiron/R. Haryo Kusumo atau masyarakat menyebutnya dengan Br. Kriyo Kusumo. Beliau adalah tokoh era Majapahit menuju kejayaan Demak Bintoro Radek Kriyo Kusumo/R. Haryo Kusumo adalah putra  Prabu Brawijaya V yang ke-52 diantaranya seratur sebelas putra Prabu Brawijaya V yang lain (R. Haryo Damar Adipati Palembang, R. Jaka Maya/Prabu Dewa, Ketut di Bali, R. Joko Sujaluna Adipati Blambangan, R. Patah Sultan Demak Bintoro I.R. Joko Piturun/Adipati Batoro Katong di Ponorogo, R. Joko Loba/Kyai Ageng Pilang/Kyai Ageng banyu Biru/Kyai Ageng Purwoko Sidik, R. Joko Balora/R. Sumabahu di Gunung Gajah Mungkur, R. Joko Bidho / R. Sutawijoyo di Majasto dan banyak lagi di anatara seratur sebelas putra Prabu Brawijaya V yang lainya.
Raden Kriyo Kusuma termasuk putra Brawijaya V yang paling arif dan dikenal paling bijaksana. Selain R. Jaka Loba / Kyai Ageng Banyubiru yang terkenal titis tata batiniyahnya.
Wilayah dusun yang ke-3 adalah Dusun Bodeh : dari sebelah baratdaya Desa Gentan adalah Dukuh Mirikerep yang beresal dari kata mirip dan kerep (miri adalah nama sebuah pohon, dan kerep berati banyak). Di sebalah utara Dukuh Mirikerep atau wilayah kebun dan tegalan yang dimaksud Kyai Bas yaitu kebun tanaman garut, sekarang menjadi Dukuh Garutan. Di sebelah Timur Mirikerep ada 2 dukuh bernama Keringan dan Dkuh Kelor, dinamakan Dukuh Keringan berada di sebelah kering atau sebelah kiri pengunungan, dan dinamanakan Dukuh kelor diambil dari sebuah nama pohon dan tempat yaitu sendang Kelor dan pohon kelor. Di sebelah timur dan utaranya yaitu Dukuh Sungsang, Bodeh, Kepuh. Nama Dukuh Kepuh diambil dari nama pohon yang berada di dukuh tersebut bernama  pohon kepuh yang sekarang sudah roboh. Di dukuh Kepuh ada dua pohon yaitu pohon kepuh dan randu alas yang jama dulu menjadi patokan ketika petani mau mengawali masa tanam di awal musim penghujan (labuhan). Jika pohon kepuh dan randu alas tersebut daunya gugur dan buah randu pecah maka penduduk mulai mengarapa ladangnya, ketika dua pohon tersebut mulai semi, itu pertanda musim tanam dimulai atau musim penghujan (labuhan). Dan masih ada dua dukuh lagi di sebelah tenggara yaitu Dukuh Tanjung dan Pacinan.  Nama Dukuh Tanjung tersebut juga diambil dari nama  sebuah pohon bernama pohon tanjung utara Dukuh Tanjung di bangun Embun Gentan seluas ±1,5 ha, yang cukup unik dan menarik “Pundung Tnajung” yang berada di selatan Embung Gentan tidak dijadikan areal henangan, dengan desain konstruksi pada Embung Gentan dibuat tanggul. Hal ini permintaan dari kepala Desa Gentan yang menjabat saat dibangunnya embung Gentan saat itu, yaitu DWI CAHYONO, ST pada tahun 2010. Selain itu juga ada pertimbangan lain adanya bengkok (tanah kas) dis elatan embung Gentan dan pertimbangan teknis lainya juga berkaitan dengan kemampuan pengairan lahan pertanian. Karena embung ini di desain untuk air baku, wisata dan irigasi pertanian.
Di sebelah selatan dukuh Tnajung ada mata air (umbul) bernama Umbul Bendo dan Sendang Lanang uang merupakan asal wisata milik desa. Dukuh yang paling tenggara persis di lereng Gunung Gedhe Gajah Mungkur adalah dukuh Pacinan. dukuh Pacinan diambil dari nama pohon Pacing yang muncul di sekitar mata air di sepanjang sungai di Obyek Wisata Baru Seribu dan muncul ketika musim hujan datang. Namun Batu Seribu itu sendiri dikenal masyarakat Sukoharjo ketika baru seribu dicanangkan oleh salah satu Bupati Sukoharjo yangbernama Setiyawan Sadono saat masih menjabat. Obyek Wisata Batu Seribu dikelola oleh Dinas Pariwisata dan dikepung seta dikeliling oleh obyek wisata desa yang menjadi pilar penyangga wisata Nasional.
Dalam sejaran desa tercatat secara sistematis pada zaman kolonial yaitu tahun 1928-1937 desa Gentan dipimpin oleh seorang Demang bernama Demang Drono, beliau meninggal dan dimakamkan di dukuh Soko desa Kedungsono. Selanjutnya pada masa perjuangan era kemerdekaan desa Gentan di pimpin seorang Demang bernama KRT Sastro Raharjo yang memimpin pada tahun 1937-1946, beliau meninggal dan dimakamkan di makan Kramat Gede Baseng.
Maka tercatat dalams ejarah desa tahun 1925 adalah tahun bersejahar berdirinya pranata pemerintahan bernama Desa Gentan dalam ketaranegaraan :
Adapun Kepala Desa yang pernah menjabat adalah sebagai berikut :
Demang                : Soko Drono                           Tahun 1925-1937
Demang                : KRT sastro Raharjo              Tahun 1937-1946
Kepala Desa I      : Marto Wiyono                       Tahun 1946-1975
Kepala Desa II     : Suharno R                             Tahun 1975-1986
Kepala Desa III   : Sukimo                                  Tahun 1986-2006
Kepala Desa IV   : Dwi Cahyono, ST                 Tahun 2006-2012
Kepala Desa V     : Kardaya                                Thaun 2012-2018

Demikian sejarah desa ini di tulis untuk mengenal khasanah desa di segala ciri khasnya. Dengan kata lain desa Gentan adalah desa wisata untuk masa depan.
Terima kasih kami ucapkan kepada nara sumber dan semoga bermanfaat bagi para pembaca dan kawula muda. Amin ya robbal alamin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar